| Kesiapan UKM Menghadapi FTA |
|
|
|
| Written by dede |
| Thursday, 04 March 2010 03:04 |
|
Menteri Negara Koperasi dan UKM (Meneg KUKM) Sjarifuddin Hasan mengatakan, sepatu dan garmen produk lokal saat ini siap bersaing dalam Atean-China Free Trade Agreement (AC-FTA). "Dari pengamatan di lapangan secara random, menunjukkan produk kita khususnya garmen dan sepatu siap bersaing menghadapi AC-FTA," kata Sjarifuddin Hasan di sela-sela kunjungan ke Pasar Tanah Abang Blok A, Jakarta, Rabu. Ia mengatakan, pihaknya sudah melakukan peninjauan langsung di lapangan secara random untuk dua produk lokal yakni garmen di Pasar Tanahabang dan sepatu di sentra produksinya Cibaduyut, Jawa Barat.Menurut dia, berdasarkan informasi dari pelaku usaha dan konsumen di dua tempat tersebut, produk lokal masih relatif unggul dibanding produk impor dari China. "Yang jelas kualitas produk lokal masih lebih bagus, konsumen juga melihat produk Indonesia lebih berkualitas dan harga lebih murah," katanya. Ia mengatakan, para penjual di Pasar Tanahabang, Jakarta, terbukti cenderung lebih memilih produk buatan lokal. "Hal yang perlu kita lakukan adalah meningkatkan lagi kualitas produk agar semakin bisa bersaing,"katanya.Selain itu, Menteri berpendapat ketahanan ekonomi harus ditingkatkan di samping juga memperbesar produktivitas barang agar terjadi efisiensi biaya operasional.Pihaknya menyatakan akan membina pelaku UKM agar dapat meningkatkan produktivitasnya supaya harga per unit dapat ditekan. "Saya lihat langsung di lapangan, informasi yang dapat disimpulkan kita siap bersaing dalam AC-FTA," katanya. Ia menyatakan akan meninjau dan menginventarisir produk lain setelah sepatu dan garmen seperti alas kaki, elektronik, baja, makanan dan minuman. Menteri menganalisis, khusus di Pasar Tanahabang, komposisi produk yang dipasarkan sampai saat ini adalah 53 persen buatan lokal dan 47 persen buatan impor (sebagian besar China). Menurut Menkop, pada dasarnya bea masuk (BM) yang ditetapkan 0 persen untuk produk garmen asal luar negeri, termasuk China, masih relatif aman. "Dengan BM 0 persen pun kita masih relatif aman," kata dia. Hal itu karena produk garmen produksi lokal terbukti lebih berkualitas dan lebih murah, sehingga cenderung menjadi pilihan utama konsumen. Meskipun demikian, pihaknya tetap berpendapat bahwa BM idealnya berkisar di angka 5-10 persen. Kita memang masih aman, tetap kita tetap harus melindungi pelaku usaha di tanah air," katanya.Terhitung mulai 2010, bea masuk produk garmen asal China telah dihapuskan. Produk garmen asal China hingga 31 Desember 2009 masih dikenai BM 5 persen, sedangkan dari negara lain (MFN/most favored nations) ditetapkan 15 persen. Menurut Menkop, BM produk garmen idealnya tetap ada sebagai bentuk perlindungan terhadap pelaku usaha di Indonesia. "Diturunkan 5 persen menjadi sekitar 10 persen, menurut saya itu angka yang masih relatif kompetitif, katanya, rudy Harian Ekonomi Neraca, 14 Jan 2010 |
Pihak Edhi Bhaskoro atau Ibas, anak kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membantah telah meminta pesawat Garuda menunggu. Keputusan untuk menunggu penumpang atau tidak itu hak maskapai.
Jaksa Cirus Sinaga mendatangi Gedung KPK. Pria yang disebut-sebut terlibat kasus mafia pajak Gayus Tambunan ini, mengunci mulutnya seputar maksud kedatangannya itu. 


