|
JAKARTA: Meski perpanjangan program restrukturisasi mesin dan peralatan telah diputuskan sejak Oktober 2009, kalangan industri kecil menengah (IKM) mengaku tidak mengetahui bantuan itu. Depperin, berdasarkan Peraturan Menperin No: 141/M-IND/PER/10/2009, menyiapkan program bantuan restrukturisasi mesin dan peralatan IKM pertekstilan dan produk kulit untuk meningkatkan daya saing mereka.
Agusmisari, pemilik usaha kerajinan sulam usus Alfina, Bandar Lampung, mengaku tidak mengetahui adalah program bantuan pembelian mesin dan peralatan itu. Meski pengerjaan sulam tetap dilakukan dengan tangan, katanya, proses produksi lainnya juga ditunjang oleh mesin jahit. Alfina saat ini mempekerjakan 50 perajin. "Kalau bisa mendapatkan bantuan untuk membeli mesin baru akan sangat membantu jalannya produksi," ujar Agusmisari, kemarin. Hal senada diungkapkan oleh Sungkono, pemilik PT Mitra Jaya-industri pengolahan kulit di Sidoarjo, Jawa Timur. Pengusaha yang juga memiliki toko Mojokerto dan Bogor ini mengatakan tidak pernah mengetahui adanya program bantuan pengadaan mesin dan peralatan IKM itu. Sungkono yang mengolah kulit menjadi tas, sepatu, dan dompet, menuturkan usia mesin yang tua berpengaruh pada hasil produksi. Selama ini, peremajaan mesin Mitra Jaya dibiayai dengan dana pribadi. "Untuk pembelian mesin baru harus disesuaikan dengan anggaran yang ada. Kadang terpaksa ditunda untuk keperluan yang lain. Kami hanya merawat mesin dengan rajin mengganti suku cadang yang rusak," tuturnya. Adinindyah, pemilik kerajinan tenun Lawe di Yogyakarta, mengungkapkan pembaruan sarana produksinya dirasai sangat penting, mengingat sebagian peralatannya rusak akibat gempa pada 2006. Namun, dia tidak tahu adanya bantuan peremajaan mesin dari pemerintah. Saat ini, dengan peralatan berupa alat tenun bukan mesin, mesin jahit, dan mesin obras, Lawe menghasilkan kain tenun dan beragam produk seperti tas, aksesori dan elemen interior. "Bantuan sebaiknya berupa uang tunai agar perajin dapat membeli peralatan yang spesifikasinya sesuai dengan kebutuhan produksi. Jadi mesin dapat digunakan secara maksimal," katanya. Ike Hadiani, pemilik K'Ria Shoes & Bag-usaha pembuatan aneka tas, sepatu dan akserori berbahan kulit di Bandung, mengaku pernah mendengar adanya program restrukturisasi mesin dan peralatan. Akan tetapi, pengusaha yang memiliki workshop di Jl. Purbamanik Blok C-19 Guruminda ini tidak tahu tentang tatacara untuk mendapatkan program itu. Dengan jumlah karyawan 19 orang, saat ini K'Ria Shoes & Bag mampu menghasilkan 300-500 pasang sepatu, tas, dan aksesori per bulan. Berdasarkan Peraturan Menperin No: 141, pemerintah menyediakan bantuan potongan 25% dari harga pembelian peralatan dan mesin IKM pertekstilan dan kulit. Apabila sarana produksi bisa dibuktikan sebagai produk lokal akan mendapatkan potongan harga 30%. (
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
/
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
) Oleh Ratna Ariyanti & Moh. Fatkhul Maskur Bisnis Indonesia, Kamis, 070110 |