|
JAKARTA: Program restrukturisasi mesin industri kecil menengah (IKM) pertekstilan dan kulit diperluas ke Indonesia. Sebelumnya, bantuan ini hanya dinikmati Pekalongan, Majalaya, dan Cibaduyut. Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Depperin Fauzi Aziz menjelaskan perluasan wilayah bantuan itu diperlukan untuk pemerataan serta peningkatan realisasi anggaran.
Anggaran program restrukturisasi mesin IKM pada 2009 hanya terserap 23,08% atau Rp3 miliar dari total pagu Rp13 miliar. "Akibatnya, investasi mesin-mesin baru di sektor pertekstilan dan alas kaki yang terjaring dari stimulus ini hanya Rp14 miliar," katanya kemarin. Capaian itu masih sangat rendah, sedangkan peminatnya justru membeludak. Atas dasar itu, Depperin memperluas wilayah bantuan. Di dalam program restrukturisasi mesin IKM, Depperin memberikan diskon harga pembelian sarana produksi itu sebesar 25%. Apabila peralatan dan mesin tersebut bisa dibuktikan sebagai produk lokal maka akan mendapatkan potongan harga 30%. Secara khusus, lanjutnya, Depperin masih membolehkan pembelian sarana produksi tekstil jenis alat tenun bukan mesin (ATBM) bagi para pemohon. Namun, program ini tak berlaku bagi pembelian mesin bekas. Untuk setiap perusahaan IKM, Depperin mengalokasikan bantuan diskon Rp200 juta hingga Rp1 miliar. "Kami juga melakukan pembinaan dan pelatihan bisnis," ujar Fauzi. Kendati cakupan wilayah bantuan diperluas, anggaran program restrukturisasi mesin-mesin IKM pada 2010 tetap sama dengan 2009 yakni Rp13 miliar. "Kami menargetkan anggaran yang terserap serendah-rendahnya 60% atau sekitar Rp7,8 miliar, dengan harapan investasi bisa naik empat kali lipat dari Rp14 miliar menjadi Rp56 miliar," jelasnya. Luar Jawa Menurut Fauzi, sejumlah perajin bordir, tenun, kulit, dan alas kaki di luar Jawa mulai ramai mengajukan bantuan restrukturisasi permesinan ke Depperin, di antaranya Sumatra Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali, dan Lampung. "Para pemohon bisa dari mana saja baik itu perusahaan perseorangan, koperasi, bahkan para pelaku usaha yang tak berbadan hukum. Asalkan mesin yang mereka beli jelas produsennya," katanya. Fauzi menjamin seluruh persyaratan bagi pemohon agar proses restrukturisasi dipermudah agar program berjalan dengan lancar. Depperin juga akan menggandeng PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk membuka akses kredit ke IKM, dan PT Surveyor Indonesia untuk proses verifikasi. "Saya juga ingin agar mereka bisa menggunakan pinjaman KUR dari BRI maupun bank-bank daerah setempat," ujarnya. Secara keseluruhan, anggaran restrukturisasi permesinan untuk tiga sektor industri strategis yakni TPT, alas kaki dan gula turun 32,5% dari Rp360 miliar pada 2009 menjadi hanya Rp243 miliar. Dana itu akan dialokasikan untuk merestrukturisasi 15 perusahaan gula, 100 perusahaan TPT, dan 40 perusahaan penyamakan kulit dan alas kaki senilai Rp230 miliar, serta untuk IKM sekitar Rp13 miliar. (
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
) Oleh Yusuf Waluyo Jati Bisnis Indonesia, Rabu, 06/01/2010 |