| KUMKM Perlu Genjot Iptek |
|
|
|
| Written by dede |
| Thursday, 29 April 2010 07:32 |
|
Kadin bawa isu UKM di Entrepreneurship Summit
JAKARTA: Penerapan ilmu pengetahun dan teknologi (Iptek) bagi pelaku koperasi dan usaha mikro, kecil menengah (KUMKM) perlu digenjot guna mendorong peningkatan daya saing dalam menghadapi perdagangan bebas Asean dengan China (ACFTA). Wayan Suarja, Staf Ahli Bidang Pemanfaatan Teknologi Kementerian Koperasi dan UKM, mengungkapkan dampak dari ketidakmampuan KUMKM Indonesia menerapkan teknologi terbaru, membuat posisi mereka kurang strategis. "Sebab, mereka tetap mengandalkan kinerja pada teknologi tradisional. Akibatnya, biaya operasional tinggi, dan tentu saja tidak mampu bersaing dengan negara lain kompetitor yang menawarkan harga lebih kompetitif," ungkap Wayan Suarja kepada Bisnis, kema-rin. Pemborosan biaya itu masih terjadi di beberapa sektor industri, seperti kain tenun tradisional maupun kemasan berbagai produk makanan. Sebaliknya China sebagai kompetitor paling diperhitungkan, telah menerapkan iptek canggih pada skala industri KUMKM-nya. Karena itu, komoditas KUMKM China yang masuk pasar Indonesia, jadi favorit karena harganya mampu bersaing dengan produk lokal. Diperkirakan, batik dari China saat ini sudah merambah pasar nasional, serta dipasarkan dengan harga bersaing. Di bidang pertanian misalnya, produktivitas pelaku UMKM juga sangat rendah. Ketika negara Asean lain sudah mampu menghasilkan produk gabah lebih dari 10 ton dari hasil panen 1 hektare, petani Indonesia masih menghasilkan panen rata-rata di bawah 10 ton. Ke depan, kata Wayan Suarja, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Koperasi dan UKM akan lebih fokus pada sosialisasi pemakaian teknologi modern. Mengubah pola pikir KUMKM tidak mudah, sebab, selama ini mereka kebih banyak memposisikan diri sebagai pedagang ketimbang memilih menerapkan teknologi baru dalam aktivitasnya. Kekhawatiran terbesar saat ini muncul ketika ACFTA telah resmi diberlakukan, dan pesaing Indonesia bukan hanya China semata, melainkan juga termasuk negara Asean lainnya yang telah mengedepankan teknologi bagi kegiatan KUMKM-nya seperti Vietnam, Laos dan Thailand. Meski bantuan atas penerapan teknologi bagi sektor riil belum memadai, katanya peningkatan tersebut bisa dilaksanakan secara bertahap. Apalagi dilakukan secara terintegrasi oleh be-berapa kementerian terkait dengan KUMKM, maka optimalisasi pemakaian teknologi bisa lebih cepat direalisasi. Selain itu penerapan teknologi dan informasi dinilainya juga sangat penting dimasukkan dalam aktivitas KUMKM. Sebab, selama ini pelakunya mengambil keputusan peningkatan produksi tanpa menggunakan database. Melalui penerapan teknologi informasi, perkembangan dan peningkatan itu bisa dimonitoring perkembangan untuk mencapai tepat sasaran. Entrepreneurship Summit Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia akan membawa isu peningkatan kapasitas usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebagai isu global dalam Entrepreneurship Summit yang diprakarsai Presiden AS Barack Obama. "Forum ini penting untuk memperkuat jaringan global memberdayakan UMKM agar bisa naik kelas menjadi pengusaha besar," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang UMKM dan Koperasi, Sandiaga S Uno, seperti dikutip Antara, awal pekan ini. Entrepreneurship Summit dilaksanakan 2 hari, Senin dan Selasa (26-27 April) di Washington DC, Amerika Serikat. Acara tersebut dihadiri oleh lebih 250 peserta dari 60 negara. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama bisnis, menumbuhkembangkan kewirausahaan bidang sosial, dan pendidikan di negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim. Kerja sama tersebut dilakukan dengan kelompok civil society dan swasta. Kadin, ujar Sandiaga, akan mengambil posisi sentral dan berpihak agar usaha mikro terberdayakan dan UKM dapat menjadi bagian utama dalam strategi Indonesia Incorporated. "Kami akan memperjuangkan peningkatan kapasitas UKM dan akses kepada pembiayaan kredit mikro," katanya. Menurut dia, dengan menjadikan program pemberdayaan UMKM sebagai gerakan global, maka kekuatan pemberdayaan UMKM akan semakin besar. Selain itu, kerja sama antarnegara dan korporasi global juga menjadi semakin erat. "Banyak negara yang berhasil memberdayakan UMKM. Kita bisa belajar kepada negara yang sukses itu dan menjalin kerja sama," katanya. Tujuan lain dari gerakan tersebut adalah mendorong lahirnya pengusaha besar yang semula memulai usaha dari kecil dan menengah. ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ) Oleh Mulia Ginting Munthe, Bisnis Indonesia, Selasa, 27/04/2010 |
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad kembali membuat statemen keras yang ditujukan kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel. Ia mengatakan, serangan ke Iran akan mengakibatkan kehancuran terhadap kaum Zionis.
Hingga kini permasalahan korupsi belum mampu diatasi oleh pemerintah Indonesia. Bila penyakit masyarakat tersebut tidak dituntaskan, maka kehancuran bangsa tinggal menunggu waktunya. 


